Backpack Journalism: Apa Saja yang Dibutuhkan untuk Menjawab Tantangan Jurnalisme?

Menjadi jurnalis tentu saja tak lepas dari upaya merekonstruksi sebuah peristiwa atau fakta. Setidaknya bagi saya, jurnalisme yang saya kenal adalah upaya konstruksi ulang dalam bentuk teks. Jurnalisme itu tersegregasi, menurut saya lagi. Jurnalis cetak, ya, hanya menulis sambil sesekali memotret. Sementara wartawan broadcast berkutat dengan audio dan visual. Seperti itu kan?

Ternyata seiring laju perkembangan zaman dan ketigabelas seri iPhone berikutnya, pola pikir saya salah. Bagaimana jika seorang jurnalis merangkap semua fungsi di atas? Bagaimana jika seorang jurnalis, selain menulis, ia juga merangkap sebagai videographer, editor video, hingga podcaster?

Itu yang tengah saya coba kuasai.

Setelah di-PHK pada Juni 2020, saya menyadari ketatnya persaingan di industri media. Untuk bertahan di jurnalisme itu sulit: Banyak perusahaan media (mengaku) kolaps, tali pinggangnya diperketat (bujet liputan lapangan dipangkas atau dihapus sama sekali), sementara gelombang PHK seperti tak bisa dibendung (lebih baik mencari kontributor biar bisa dibayar murah dan tak rewel soal asuransi). Alhasil tak sedikit wartawan yang banting setir menjajal profesi lain.

Saya mencoba bertahan dengan menjadi wartawan lepas. Sebab, kalau sudah kepalang basah kenapa tidak menyelam sekalian? Tapi untuk bertahan tentu seorang wartawan harus punya modal dan nilai lebih agar dapat dilirik perusahaan.

Saya memutar otak, bagaimana seandainya nilai jual saya berarti sebuah keharusan untuk menguasai semua teknik menulis, audio, dan visual?

Tentu ini bukan sebuah penemuan baru. Sejak 2005, wartawan Kevin Sites secara langsung maupun tidak ‘menemukan’ strategi backpack journalism yang menggabungkan teks, audio, dan visual ketika dia meliput beragam konflik di seluruh dunia yang tayang di situsnya Kevin Sites in the Hot Zone, sembari menjadi koresponden untuk bermacam media internasional.

Backpack journalism, toh, sebetulnya cuma istilah bagi wartawan yang membawa bermacam perlengkapan dalam satu tas ransel dan siap dikirim ke mana saja dan kapan saja. Istilahnya beririsan dengan multimedia journalism. Jadi kedua istilah itu sejatinya interchangeable.

***

Selama bekerja di VICE, saya beberapa kali membantu proyek video dokumenter. Entah sebagai periset, menjadi host, atau keduanya. Pengalaman tersebut cukup membantu, namun saya sadar harus belajar lebih keras lagi. Kemudian saya banyak belajar dari YouTube dan belajar dari rekan-rekan yang fokus di bidang audio-video: bagaimana memproduksi video secara (agak) profesional dengan peralatan minim, teknik kamera dan pencahayaan (white balance, kecepatan rana, ISO, bukaan diafragma, dsb), teknik audio, dst.

Perlahan saya juga banyak belajar soal editing dan koreksi warna, dari bertanya ke teman-teman, sampai melahap tutorial di YouTube. Saya pun mulai mengumpulkan peralatan pribadi sedikit demi sedikit (untuk detailnya ada di bawah).

Di sisi lain, nilai tambah (baca: cuan) si wartawan sebagai jurnalis multimedia, juga turut naik. Bagi saya ini penting, sebab ‘harga’ satu tulisan wartawan muda cenderung rendah. Ini fakta pahit yang menyebalkan dan mungkin tak ada media yang mau mengakui. Wartawan negara dunia ketiga sepertinya selalu berada dalam kasta bayaran terendah jika dibandingkan wartawan Barat dengan segala keleluasaan akses dan bujet.

Dengan memberikan pelayanan tambahan seperti foto dan audio-visual, harga satu paket produk jurnalisme itu juga akan naik.

Mengapa Backpack Journalism?

Jurnalisme harus berarti inovasi. Sebab zaman juga terus berubah. Pola konsumsi masyarakat juga turut berubah. Di sisi lain, perusahaan media kadang masih gagap mengikuti arus perubahan ini. Sementara, konon, bujet untuk kepentingan liputan semakin menyusut. Tak sedikit wartawan yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer dibandingkan pergi ke lapangan (terlepas dari pandemi).

Backpack journalism menjawab beberapa persoalan itu:

  1. Ia lebih cost-effective, sebab anggota kru liputan cuma si jurnalis seorang.
  2. Backpack journalism sebetulnya juga masuk ke ranah immersive journalism. Bentuk liputan yang tak cuma teks, tapi juga audio-visual, dinilai lebih efektif untuk memikat publik, terutama di era media sosial.
  3. Backpack journalism memungkinkan peliputan di lokasi atau kondisi yang tak memungkinkan. Dalam sebuah investigasi atau lokasi konflik yang tak memungkinkan untuk kamera dan kru yang besar, kamera ponsel atau kamera video mini dengan perekam suara sudah dapat menghasilkan suatu produk berita yang layak ditampilkan ke publik (tergantung teknik si wartawan juga).

Apa Tantangannya?

Menjadi wartawan palugada tentu tidak mudah. Bagi saya tantangan backpack journalism itu selalu ada dari awal hingga akhir. Secara mental dan fisik harus siap.

Sejak 2020, setidaknya saya sudah memproduksi empat produk multimedia yang saya kerjakan sendirian. Pertama ketika meliput luapan limbah medis di Jakarta untuk Mongabay dan New Naratif. Selain longform dan foto, saya juga bikin video dokumenter hanya dengan iPhone 11 dan shotgun mic.

Kedua ketika saya ditugaskan oleh China Dialogue meliput dampak investasi China untuk PLTU. Saya membikin longform, foto, dan tiga video pendek. Ketiga ketika saya pergi ke Sabang, Aceh untuk meliput vaksinasi buat the Washington Post. Di sana saya membuat video pendek, mengambil foto, dan menulis panjang.

Terakhir, beberapa waktu lalu ketika saya ke Sangihe, Sulawesi Utara meliput perjuangan masyarakat melawan tambang emas, yang hasilnya berupa tiga tulisan, foto, dan dua video dokumenter pendek.

Sepanjang itu saya menyadari tantangan ini:

  1. Tak cuma memikirkan soal tulisan teks dan bermacam data pendukung, backpack journalist juga harus memikirkan visual yang mendukung. Yang harus diingat, video, foto, dan tulisan tidak boleh redundant, ia harus saling melengkapi. Jadi subjek maupun objek sebisa mungkin berbeda satu sama lain. Itu yang diajarkan oleh editor saya.
  2. Dalam membuat dokumenter atau video berita, ada proses menulis treatment sebelum produksi. Biasanya proses ini saya lewati. Ide video itu biasanya saya tulis di kepala dan membiarkan cerita itu mengalir secara alami. Setidaknya topik maupun tujuan liputan sudah ada di kepala.
  3. Waktu riset yang lebih lama. Tentu saja, sebab elemen yang harus diambil juga banyak. Sudah mendapat akses ke narasumber utama? Sudah punya bayangan lokasi video? Sudah mencari data primer dan sekunder? Akan seperti apa gaya videonya?
  4. Fisik harus prima. Kadang lokasi liputan berupa hutan dan pegunungan. Ketika melakukan liputan seorang diri, saya dituntut untuk menggali semua informasi narasumber (sebagaimana biasanya tugas jurnalistik), memilih narasumber untuk wawancara video, menyiapkan bermacam peralatan video, mengambil footage pendukung (b-roll), dan seterusnya.
  5. Waktu produksi yang mepet. Jika topiknya termasuk evergreen, semua aman. Tapi jika kebutuhan berita itu mendesak, waktu di lapangan juga semakin mepet. Manajemen waktu ini tergolong sulit. Dalam satu hari, dari pagi sampai malam, setiap menit harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk mendapat semua informasi.
  6. Kendala teknis. Jika produksi video biasanya melibatkan lebih dari satu orang dengan tugas masing-masing, backpack journalism adalah kebalikannya. Semua pekerjaan ada di diri si wartawan seorang. Dan ia dituntut untuk perfeksionis. Sementara kendala teknis kerap terjadi. Baterai di mic mendadak habis di tengah jalan tanpa disadari (pernah terjadi pada saya untung ada backup shotgun mic), lupa mengosongkan SD Card sebelum proses syuting (pernah terjadi pula pada saya), data yang hilang entah karena kecelakaan, dan sebagainya. Sementara, beberapa footage tentu tidak bisa diulang. Ini menjadi tantangan tersendiri dan bisa dihindari seiring jam terbang liputan yang semakin tinggi.
  7. Jika perusahaan media punya in-house video editor, itu bagus. Tapi jika editing juga menjadi tanggung jawab si jurnalis backpack, maka ia belum bisa santai. Setiap habis syuting, saya langsung memindahkan footage ke dalam folder sesuai hari dan tanggal, dengan catatan hal penting untuk memudahkan mengingat ketika editing. Proses editing tergolong ribet, sebab selain merangkai footage dan sequence agar menjadi satu kesatuan cerita yang solid, ada banyak faktor yang harus diperhatikan: kualitas suara, koreksi warna, dan subtitling jika ada.
  8. Satu motto yang saya pinjam dari US Marines (yang konon dipinjam dari Clint Eastwood) dan selalu saya bawa ketika liputan: Improvise. Adapt. Overcome. Kondisi di lapangan itu cair. Rencana yang dibikin di newsroom bisa jadi berantakan ketika di lapangan. Misalnya, narasumber mendadak menolak wawancara, fakta di lapangan tidak sesuai dengan hipotesis/asumsi ketika persiapan, dan lainnya. Makanya, wartawan dituntut untuk berimprovisasi dan beradaptasi agar hasil liputan tetap sesuai dengan tujuan.

Yang Terpenting dari Backpack Journalism

Bagi saya yang terpenting dari menjadi wartawan adalah turut serta mengalami atau merasakan suatu peristiwa. Mungkin itu esensi dari immersive journalism.

Backpack journalism memungkinkan si wartawan untuk mendapat semua gambaran secara intim, meski jarak antara subjek harus tetap ada. Ia intim tapi sebaiknya tidak intrusif.

Ia juga penting sebab menjadi bentuk melayani publik secara kontekstual, yang mengajak publik untuk mengerahkan panca indera untuk merasakan suatu peristiwa.

Dan yang terpenting tentu saja adalah otak. Percuma punya peralatan tapi otak tidak digunakan dengan baik.

Apa Saja yang Dibawa?

Sebetulnya tak butuh peralatan mahal untuk memproduksi produk jurnalisme multimedia. Kamera ponsel dengan mic bawaan pun sudah cukup jika keadaan tak memungkinkan untuk membawa peralatan profesional.

Saya mengumpulkan peralatan ini selama satu tahun. Sebuah investasi yang melelahkan, tapi sangat mendukung kerja-kerja jurnalistik saya.

Selama dua tahun menjadi wartawan lepas, saya selalu membawa peralatan ini di tas ransel:

  1. Kamera Sony Alpha α7III. Harganya masih mahal bagi kantong saya, tapi tak semahal kamera high-end lainnya. Kemampuannya sudah mumpuni untuk foto maupun video. Bisa mengambil video 4k dan S-Log.
  2. Lensa Tamron 28–70mm. Lensa palugada untuk portrait maupun landscape. Bagi saya yang sering bepergian dengan satu tas dan tak mampu membawa bermacam jenis lensa, Tamron ini menjadi solusi praktis.
  3. Macbook Pro 16" 2019 dan iPad m1 11". Dua benda ini kadang saya bawa bersamaan, kadang tidak. Macbook Pro cukup bikin punggung kram, tapi dia penting ketika keadaan mengharuskan saya mengedit video/foto di lokasi. iPad pun turut membantu ketika butuh mengedit foto/video secara ringan lewat Lightroom atau Lumafusion.
  4. Tripod Peak Design yang sangat ringkas dan agak ringan dibanding merek lain.
  5. iPhone 11 dan ponsel cadangan.
  6. Mic wireless Saramonic dan shotgun merek Rode.
  7. Baterai cadangan.
  8. Powerbank, dongle dan bermacam kabel.
  9. Bermacam charger.
  10. Organizer. Untuk menyimpan semua perkakas dan perintilan.
  11. Botol minum.
  12. Pena dan buku catatan. Tetap esensial.
  13. Kartu pers. Kalau ditanya satpam “Dari mana, mas?”
  14. Bluetooth headset untuk rapat daring dan mengedit video.
  15. Kacamata hitam, lipbalm, deodoran (biar bau tidak mengganggu orang sekitar), dan disinfektan (esensial selama pandemi).
  16. Saya sempat punya drone DJI Mavic Air 2, tapi ini tidak terlalu esensial. Kecuali liputan yang mengharuskan kerahasiaan atau objek liputan yang tidak bisa dijangkau (tambang ilegal, proyek konstruksi, bangunan perusahaan dengan sekuriti ketat, dsb).

Mungkin itu saja. Saya sendiri masih harus banyak belajar. Saya tak menganggap diri sebagai profesional. Saya hanya seorang pembelajar. Intinya sih jangan takut mencoba dan percaya bahwa inovasi akan lebih berarti. Semoga.

--

--

Jakarta-based freelance multimedia journalist. Award-winning and award-losing. Has written for various publications around the world. www.adirenaldi.com

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Adi Renaldi

Adi Renaldi

Jakarta-based freelance multimedia journalist. Award-winning and award-losing. Has written for various publications around the world. www.adirenaldi.com