Dalam Jurnalisme, Ada Sederet Kebahagian Kecil Selain Menang Penghargaan

Francois Boucher’s The Triumph of Venus (1740) famous painting. Original from Wikimedia Commons. Digitally enhanced by rawpixel.

Wartawan mana yang tak merasa senang dan bangga bukan kepalang ketika membawa pulang Pulitzer Prize — hadiah paling prestisius dalam jurnalisme Amerika.

Saya tak terlalu peduli dengan penghargaan. Ketika memutuskan berkarier dalam jurnalisme, satu hal yang ingin saya lakukan hanyalah menulis. Hal lain adalah memberi suara buat mereka yang hanya bisa berbisik lirih dalam senyap.

Beberapa bulan setelah saya dipekerjakan di sebuah media di Jakarta Selatan, satu hari di pertengahan 2017 pemred menyuruh saya untuk memilih karya yang saya rasa paling bagus yang pernah ditulis. “Kita mau ikut seleksi penghargaan SOPA Awards,” katanya.

Seumur-umur baru kali itu saya ikut lomba lagi — setelah beberapa kali kalah dalam kompetisi menggambar tingkat sekolah dasar. Saya memang tak suka kompetisi. Mungkin karena takut kalah. Atau mungkin karena saya lebih memilih hidup tenang tanpa tekanan.

Namun tak ada salahnya saya mencoba lagi. Setelah memilih satu karya yang dirasa paling baik, pemred langsung mengirim beberapa tulisan termasuk milik rekan lain ke panitia lomba.

Karya saya bahkan tak masuk nominasi.

Tak apalah. Toh bukan itu tujuan utama saya menjadi wartawan.

Beberapa kali kesempatan datang lagi tanpa diundang. Sejak saat itu saya beberapa kali diminta mengirim tulisan yang pernah diterbitkan media lain untuk diikutkan lomba. Tak juga lolos. Atas inisiatif sendiri, saya juga pernah mengirimkan tulisan untuk ajang penghargaan lokal. Kali ini saya lolos jadi finalis. Lumayan.

Semua saya lakukan karena iseng. Tanpa beban. Ini juga buat mengukur sejauh mana kualitas tulisan saya dari waktu ke waktu.

Tentu tidak ada yang salah dengan mengikuti lomba jurnalistik dan menyabet penghargaan. Tapi buat saya, ia tak melulu jadi tolok ukur kualitas seorang wartawan.

Mendapat penghargaan karya jurnalistik terbaik tentu membawa kebahagiaan tersendiri. Tapi seseorang kadang lupa bahwa ada banyak hal lain yang membahagiakan dalam suatu hal, yang sekilas terlihat sepele.

Saya bahagia ketika tulisan yang saya buat mampu mengamplifikasi suara orang banyak. Diapresiasi publik maupun tidak, setidaknya saya telah menyelesaikan tugas dengan baik.

Saya bahagia ketika memiliki kebebasan untuk menulis topik yang saya sukai, dengan tenggat yang fleksibel. Ini suatu kemewahan yang tak didapat banyak jurnalis. Saya bersyukur.

Lucu memang bagaimana jurnalisme bagi saya adalah dunia yang mulia. Memang, para jurnalis juga seorang karyawan yang butuh uang buat makan. Mereka bukan pekerja sosial atau relawan yang tak digaji. Mereka juga punya atasan yang turut disokong pemodal.

Nyaris tak ada bedanya dengan kelas pekerja lain.

Tapi satu hal, jurnalis (seharusnya) tak menghamba kapital. Ia memang dipekerjakan, tapi ia tak punya kewajiban untuk memberi karpet merah buat pemodal. Sebab ia hanya melayani kepentingan publik. Titik.

Buat saya, ini satu-satunya profesi yang membuat saya utuh serta punya arti dan tujuan dalam hidup. Saya tak bisa membayangkan bekerja kantoran hanya untuk mencari uang, sampai lupa gairah dan tujuan hidup.

Saya berangkat dari keyakinan itu. Tidak kurang tidak lebih dan saya bahagia. Dengan penghargaan maupun tidak.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Adi Renaldi

Jakarta-based freelance multimedia journalist. Award-winning and award-losing. Has written for various publications around the world. www.adirenaldi.com