‘Kami Lebih Dekat dengan yang Mati’: Kisah Dari Garis Depan Perjuangan Melawan Pandemi COVID-19

Versi asli sebelum melalui proses editing.

Artikel pertama kali tayang di VICE Indonesia (https://www.vice.com/id_id/article/7kz33g/pengakuan-palang-hitam-perawat-rspi-dan-pengurus-jasad-pasien-corona-di-jakarta)

Selama satu minggu VICE mengikuti mereka yang berada di garis depan perjuangan melawan pandemi COVID-19. Dari instalasi gawat darurat di RSPI Sulianti Saroso yang menjadi rumah sakit rujukan kasus coronavirus pertama kali, bertemu pengemudi mobil jenazah, hingga ke pemakaman umum. Ini adalah kisah mereka yang menolak berlutut di hadapan salah satu pandemi terburuk dalam sejarah manusia.

Kondisi kesehatan Maruf bin Khasan mendadak menurun pada Sabtu sore di penghujung Maret. Pria berusia 63 tahun tersebut mengeluh sakit pada dada dan mulai kesulitan bernafas. Putranya yang berusia 30 tahun, Satria, bergegas memesan taksi dan membawa bapaknya ke rumah sakit Hermina Daan Mogot, Jakarta Barat.

Maruf mendapat pertolongan pertama di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berdasarkan pemeriksaan awal, kondisi Maruf menunjukkan gejala pneumonia. Dari riwayat kesehatannya, Maruf memang punya masalah paru-paru sejak dulu dan sempat beberapa kali menjalani rawat inap.

Sesak nafas adalah gejala umum ketika seseorang terjangkit coronavirus. Dalam kasus parah dan tanpa penanganan, sesak nafas tersebut bisa berujung pada hypoxemia (kadar oksigen rendah dalam darah) dan yang terburuk kematian. Dalam kasus hypoxemia, paru-paru terlalu lemah untuk bekerja dan seseorang menggunakan otot perutnya untuk mengambil oksigen. Asupan oksigen yang kelewat rendah membuat bibir dan kulit membiru.

Maruf kemudian menjalani rawat inap dan berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Selang oksigen terpasang di hidungnya. Antibiotik diinjeksi ke dalam darahnya. Namun kondisi Maruf terus memburuk. Dua hari setelah dirawat inap, pada Senin sekira pukul 16:00, Maruf mengembuskan nafas terakhir. Dia meninggal tanpa menjalani tes coronavirus.

“Bapak memang sudah lama punya sakit paru-paru,” kata Satria. “Tapi sampai sekarang kami tidak tahu apakah kematiannya disebabkan coronavirus atau penyakit bawaannya.”

Karena memiliki gejala terinfeksi coronavirus, jenazah Maruf harus ditangani dengan protokol penanganan Covid-19. Tubuhnya dibungkus plastik sebelum dimasukkan ke dalam peti yang dilapisi kantong jenazah di bagian dalam. Peti tersebut kemudian dibungkus berlapis-lapis plastik lagi.

Penanganan jenazah dengan protokol Covid-19 tersebut begitu cepat hingga Satria dan keluarganya tak sempat memandikan, mengafani, atau mengantar ke peristirahatan terakhir. Ketika Satria tengah mengurus semua dokumen kematian yang dibutuhkan, ambulans telah bergegas membawa jenazah ayahnya ke pemakaman umum.

“Bahkan buat sekedar berpamitan atau mendoakan di sampingnya pun tak sempat,” kata Satria dengan nada bicara bergetar. “Kami tak pernah menduga bapak akan pergi seperti ini.”

***

Dengan langkah kaki gontai Sofyan menuruni tangga yang menghubungkan kantor Pelayanan Mobil Jenazah di Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta dengan tempat parkir mobil. Dengan sedikit enggan dia menyeret sepatu bot kuningnya. Tangan kirinya membawa setumpuk dokumen, sementara tangan kanannya menggenggam nasi bungkus dan air mineral. Hari juga belum beranjak siang, tapi masker N95 dan penutup rambut yang dikenakan seolah tak bisa menyembunyikan wajah letihnya. Seragam hitam berkelir oranyenya lusuh. Keringat mengucur deras.

“Ini mau menjemput jenazah lagi. Sudah ditungguin,” kata Sofyan sambil berjalan menuju mobil jenazah putih keluaran Hyundai milik Pemprov DKI. “Ini baru yang kedua. Mau makan sebentar pun enggak bisa. Jadi sambil nyetir nanti.”

Sofyan adalah pengemudi mobil jenazah di bagian Pemulasaraan dan Pemakaman atau biasa disebut Palang Hitam. Sudah 10 tahun dia menggeluti profesi tersebut. Ada 48 personel di kantornya yang bekerja non-stop 24/7.

Ruang kantor itu cuma berukuran 6x7 meter. Terletak terpisah di bagian depan gedung utama. Cuma ada tiga meja besar dan tiga kursi panjang di kantor itu. Beberapa karton berisi alat pelindung diri (APD) seperti masker, penutup kepala, dan sarung tangan tertumpuk di sudut kiri. Sementara dokumen pemakaman berserakan di meja kayu utama. Telepon berdering dalam interval yang pendek sepanjang hari. Isi percakapannya sama: meminta pelayanan pemulasaraan jenazah.

Palang Hitam, konon, telah ada sejak masa kolonial Belanda dalam bentuk organisasi swasta. Di masa Gubernur Ali Sadikin, Palang Hitam diambil alih oleh Pemprov DKI Jakarta hingga sekarang.

Palang Hitam memberi pelayanan pemulasaraan jenazah gratis kepada masyarakat. Mereka mengurus segala jenis kematian; korban pembunuhan, kecelakaan, meninggal karena sakit, hingga mayat tak dikenal. Mereka bertugas memandikan, mengafani, hingga mengantar ke pemakaman.

Semenjak kasus coronavirus merebak di DKI Jakarta pada awal Maret, tangan Sofyan seolah tak pernah lepas dari kemudi. Dalam sehari dia bisa membawa 6–8 jenazah dari rumah sakit ke pemakaman. Itu sebuah lonjakan signifikan dari hari-hari biasa sebelum pandemi. Tak jarang dia pulang tengah malam, sebelum kembali bertugas keesokan harinya. Liburnya cuma sehari dengan upah standar UMR plus tunjangan.

“Sekali memulasara jenazah bisa memakan waktu hingga 4 jam, itu mulai dari jalan, di rumah sakit, sampai ke pemakaman. Kita butuh cepat kalau mengurus jenazah standar coronavirus, jadi tak ada waktu terbuang. Hidup saya di jalanan sekarang,” kata Sofyan.

Dalam sebuah konferensi pers akhir Maret, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pihak Pemprov DKI Jakarta telah memakamkan 283 jenazah dengan protokol Covid-19 bagi mereka yang positif maupun suspek dari 6 Maret hingga 29 Maret. Sementara hingga 5 April, jumlah kasus positif coronavirus di DKI Jakarta mencapai 1,151 orang. Dengan 123 pasien positif meninggal dunia dan 64 pasien sembuh. Rata-rata angka kematian di DKI Jakarta adalah 10.68 persen, tertinggi se-Asia Tenggara.

Permintaan terhadap peti jenazah juga seturut tingginya angka pemakaman berprotokol Covid-19. Tri Nurcahya, salah seorang petugas pemulasaraan yang tengah sibuk membuat peti jenazah, mengatakan sepanjang hari pihaknya bisa membuat lebih dari 30 peti, tanpa hari libur. Permintaan begitu tinggi hingga mereka sempat kehabisan penutup peti jenazah. Peti tersebut terbuat dari kayu cor yang mudah lapuk dan dicat coklat. Bagian dalamnya dilapisi lembaran nylon berwarna oranye yang jamak dipakai sebagai kantong jenazah.

“Kami masih ada stok dua lusin di gudang belakang. Tapi tak sampai minggu depan stok sudah pasti habis,” kata Tri. “Kami sudah meminta ke dinas [pertamanan dan kehutanan] untuk menambah bahan baku.”

Pada 28 Maret, Anies mengirim surat permohonan untuk menerapkan karantina wilayah kepada pemerintah pusat, sebab pergerakan masyarakat keluar-masuk Jakarta berpotensi memperburuk pandemi. Permohonan tersebut ditolak Presiden Joko Widodo, karena khawatir mengganggu roda perekonomian sembari mengatakan bahwa pemerintah pusat lebih memilih menerapkan pembatasan sosial skala besar (PSBB).

Namun bagi para petugas pemulasaraan seperti Sofyan, risiko terpapar coronavirus tetap mengancam meski pembatasan sosial diterapkan. Kendati dilengkapi dengan APD dan standar ketat dalam penanganan jenazah dalam tugas sehari-hari selama pandemi, Sofyan selalu dihinggapi rasa takut.

“Di saat orang seharusnya [menerapkan] social distancing seperti ini, kami lebih dekat dengan yang mati daripada yang hidup,” kata Sofyan. “Risikonya tetap sama.” Dia membuka pintu mobil jenazah, meletakkan dokumen dan nasi bungkusnya di kursi sebelah, sebelum meluncur menembus jalanan yang lengang, kembali menjemput jenazah.

Dari data statistik yang dimiliki Pemprov, ada hampir 4.400 pemakaman sepanjang Maret, atau kenaikan 40 persen dari jumlah di bulan-bulan sebelumnya. Muncul kekhawatiran bahwa angka kematian akibat coronavirus jauh lebih besar ketimbang apa yang telah dilaporkan.

DKI Jakarta menjadi episentrum dengan penyebaran coronavirus tertinggi di seluruh Indonesia. Hingga awal April, tercatat sebanyak 20.532 orang telah mengikuti pemeriksaan cepat (rapid test). Hasilnya 428 orang dinyatakan positif coronavirus, menurut Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Rapid test tersebut dinilai kurang oleh banyak pihak, mengingat jumlah penduduk DKI Jakarta yang mencapai hampir 10 juta jiwa dan penerapan social distancing yang dirasa kurang tegas.

Tingginya kasus coronavirus di Jakarta lantas memaksa pemerintah untuk memperluas layanan kesehatan. Kementerian Kesehatan kemudian menunjuk delapan rumah sakit rujukan di DKI Jakarta untuk menangani pandemi Covid-19, dari yang awalnya cuma dua rumah sakit. Wisma Atlet di Kemayoran lantas diubah menjadi rumah sakit darurat yang mampu menampung lebih dari 4.000 pasien. Namun hampir semua rumah sakit memiliki keterbatasan ruang rawat inap, peralatan, dan tenaga medis.

Di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, semua ruangan — termasuk instalasi gawat darurat — kini diubah menjadi ruang isolasi pasien coronavirus. Sebanyak 150 tempat tidur di 60 ruang isolasi yang tersedia di RSPI saat ini hanya diisi oleh pasien khusus coronavirus. Saking terbatasnya hingga pihak rumah sakit lebih memprioritaskan pasien dalam kondisi parah untuk menjalani rawat inap. Pasien dengan gejala atau kondisi ringan diimbau untuk mengisolasi diri secara mandiri atau menjalani perawatan di rumah sakit rujukan lain.

“Kami beberapa kali terpaksa menolak pasien,” kata Derpina Sinaga, seorang perawat di RSPI. “Di sini selalu ada antrean [pasien], jadi berdasarkan prioritas saja.”

Derpina adalah perawat veteran. Dia bercita-cita menjadi seorang polwan, tapi tinggi badannya tak memenuhi syarat. Sempat putus asa, orangtuanya lantas menyuruh Derpina masuk sekolah perawatan. Sebuah keputusan yang tak pernah disesalinya sampai sekarang.

Dia bekerja sebagai perawat sejak 2007 setelah lulus dari Akademi Perawat Cikini, Jakarta. Pada 2008, Derpina diterima sebagai perawat di RSPI lewat jalur penerimaan PNS. Saat wabah Middle East Respiratory Syndrome-Coronavirus (Mers-Cov) merebak pada 2012 hingga 2015 di Timur Tengah, Eropa, dan sebagian wilayah Asia, Derpina turut turun di garis depan.

Pihak RSPI mencatat ada 17 pasien diduga terjangkit Mers-Cov dengan riwayat perjalanan ke Timur Tengah dalam kurun 2014–2015. Kala itu pemerintah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk mengingat jumlah WNI yang melaksanakan ibadah haji atau umrah setiap tahunnya. Namun tak ditemukan kasus positif Mers-Cov di Indonesia.

“Tapi sekarang [pandemi Covid-19] amat berbeda [dengan wabah Mers-Cov],” kata Derpina, perempuan asal Pematangsiantar, Sumatra Utara. “Kami tak tahu apa yang sedang dihadapi saat ini. Kapan ini akan berakhir?”

Tak ada negara yang siap ketika Covid-19 merebak begitu cepat di berbagai belahan dunia. Pemerintah sempat mengklaim Indonesia bebas coronavirus dan berencana mengucurkan Rp72 miliar buat influencer agar mempromosikan sektor pariwisata yang lesu di media sosial. Rencana itu dikecam dan belakangan batal.

Baru pada 2 Maret, Presiden Jokowi mengkonfirmasi kasus positif coronavirus. Pemerintah Indonesia dinilai lambat dalam mengantisipasi wabah. Akibatnya, pekerja medis kini kewalahan menangani pasien, ditambah dengan keterbatasan ruang rumah sakit, APD, dan alat pendukung medis.

Seiring penambahan pasien, pihak RSPI juga turut menambah pekerja medis yang datang dari berbagai daerah. Ada 21 tambahan tenaga medis pekan lalu. Namun tetap, bagi perawat sekaligus seorang ibu seperti Derpina, beban tugas di pundaknya begitu besar hingga perasaannya bercampur aduk antara menjawab panggilan tugas mulia demi menyelamatkan nyawa sesama atau menantang risiko tertular. Mental dan fisiknya tertekan.

“Jelas selalu ada ketakutan seandainya saya membawa virus ke rumah,” kata Derpina, yang memiliki seorang putra semata wayang yang duduk di bangku SD. “Tapi saya tidak mau kekhawatiran itu justru membuat semangat saya kendur. Sepanjang saya menerapkan disiplin dan berusaha melakukan semuanya sesuai prosedur.”

Derpina melakukan semua prosedur yang diperlukan untuk dekontaminasi. Selesai bertugas, dia melepas APD dengan hati-hati sebelum membersihkan badan di rumah sakit, dan mengganti baju. Sesampainya di rumah, dia bergegas mandi lagi. Baju yang dikenakan selama perjalanan dicuci. Baru setelah semua selesai dia kembali mengurus keluarga.

“Setelah mandi, baru saya tenang memegang anak,” kata Derpina.

Namun ketakutan terbesar Derpina adalah stigma dan diskriminasi. Tak sedikit perawat yang diusir dari tempat tinggal pasca pandemi di berbagai daerah. “Itu ketakutan terbesar saya,” kata Derpina yang tinggal bersama keluarganya di Jakarta Utara. “Sampai sekarang saya enggak pernah bersosialisasi dengan warga kampung, sebab saya takut [diusir].”

Pemprov DKI Jakarta kemudian menyediakan akomodasi berupa hotel buat para pekerja medis, dari 1 April hingga 31 Mei. Derpina mendapat fasilitas itu. Tapi dia memilih pulang ke rumahnya. “Tak bisa jauh dari anak,” tuturnya singkat.

Derpina bekerja selama delapan jam, sesuai shift. Jika bekerja pada shift malam, setiap pagi dia mengurus kebutuhan putranya, dari makanan sampai membantu mengerjakan PR. Kemudian dia mengurus anjing peliharaannya. Sore dia bersiap berangkat menuju RSPI dan pulang lewat tengah malam.

Di rumah sakit, Derpina langsung menuju ruang IGD tempatnya bekerja — bersetelan APD lengkap — dan berkeliling menemui pasien. Setiap perawat seharusnya menangani satu pasien, tapi dalam kondisi darurat ini, Derpina bisa menangani 6–9 pasien per hari. Rutinitasnya sama, mengecek suhu, tanda vital, dan memberi obat. Tapi yang membuatnya bangga akan tugasnya adalah ketika mengobrol dan memberi semangat ke pasien agar terus bertahan. Sebab, katanya, pasien isolasi rentan stress dan tertekan secara mental.

“Saya lebih memposisikan diri sebagai tenaga konseling,” kata Derpina. “Paling tidak saya meluangkan lima menit buat mereka. Berdoa bersama, mengobrol. Supaya dia bertahan. Efeknya besar buat mereka yang terisolasi. Mereka sendirian.”

RSPI Sulianti Saroso adalah rumah sakit rujukan nasional selama pandemi Covid-19. Sebelum tujuh rumah sakit lain ditunjuk sebagai rujukan, antrean panjang orang yang ingin memeriksakan diri adalah pemandangan sehari-hari. Beberapa hari terakhir rumah sakit tersebut sepintas terlihat lengang dari luar.

Namun situasi di dalam rumah sakit adalah tentang hidup dan mati seseorang. Di RSPI, tercatat enam paramedis meninggal dunia hingga 24 Maret. Di seluruh Indonesia total hingga kini 30 tenaga medis meninggal terpapar coronavirus. Ada kemungkinan, penularan terbesar bagi tenaga medis adalah pada saat melepas baju APD.

Para dokter di Bergamo, Italia, dalam sebuah jurnal medis, menulis bahwa ada kemungkinan rumah sakit kini menjadi carrier Covid-19 terbesar lantaran dengan cepat diisi oleh pasien coronavirus. Derpina sadar sewaktu-waktu dia bisa tertular, namun dia tetap menolak mengikuti tes coronavirus. “Saya tak mau,” kata Derpina. “Saya hanya menjaga kondisi badan. Saya tak menonton TV sebab tak mau berita-berita itu mengganggu pikiran saya. Jika stress, kondisi badan malah enggak fit.”

Sepanjang kariernya sebagai perawat Derpina kini seolah akrab dengan kematian. Dan buruknya, dia tak tahu kapan ini akan berakhir, sepanjang mata rantai penularan coronavirus tidak diputus.

Ketika ada seorang pasien meninggal, pihak rumah sakit akan menelepon Pelayanan Pemakaman dan Jenazah. “Mereka yang meninggal kini tak lagi masuk ke kamar jenazah, tapi langsung dibawa ke pemakaman,” kata Derpina. “Tubuhnya dibungkus plastik masih dengan baju terakhir yang dikenakan, bukan kafan.”

Jenazah tersebut dibawa lewat jalur khusus. Petugas desinfektan kemudian mendekontaminasi semua, dari tempat tidur, ruangan, hingga jalur yang digunakan untuk membawa jenazah.

Itulah saat bagi petugas pemulasaraan seperti Sofyan menginjak pedal gas dan memacu mobil jenazahnya. Sofyan harus berpacu dengan waktu sebab sesuai protokol Covid-19, jenazah harus dikuburkan dalam kurun empat jam. Jenazah-jenazah tersebut dibawa ke dua pemakaman umum khusus pasien positif/suspek coronavirus: TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

Di TPU Tegal Alur, mobil jenazah lalu lalang dalam jeda relatif pendek. Asep, seorang penggali kubur, bersama lima rekannya selalu bersiap setiap waktu. Lokasi pemakaman coronavirus terletak cukup jauh dari kompleks pemakaman umum — di sebuah lahan sekira satu hektar. Pihak TPU Tegal Alur sempat mendapat penolakan dari warga sekitar. Padahal, mereka telah memenuhi standar pemakaman yang berjarak minimal 500 meter dari permukiman.

Sebuah ekskavator berwarna biru terus menggali tanah. Pukul 1 siang, sudah ada 10 lubang tergali. Dalam sehari Asep dan kawan-kawannya bisa mengubur satu lusin jenazah. Hari itu ada 56 makam di lahan itu, hampir semuanya tak memiliki nisan atau sekedar papan pengenal. Asep mengatakan meski tak ada nisan atau pengenal, pihaknya memiliki catatan nama jenazah dan letak makam. “Kalau enggak dicatat, nanti keluarga bisa keliru mendatangi makam,” kata Asep.

Siang itu sebuah mobil jenazah mendekat ke areal pemakaman. Asep dan keempat rekannya bersiap mengenakan setelan APD lengkap berwarna putih. Jika APD habis mereka kadang memakai jas hujan plastik tipis. Sejurus kemudian seorang petugas desinfektan menyemprot seluruh tubuh mereka.

“Kami menggunakan pemutih baju Bayclin atau karbol lantai buat desinfektan,” kata Asep, saat ditanya kandungan desinfektan yang dipakai. “Yang dikasih dinas kadang cepat habis.”

Keempat rekan Asep dengan sigap mengeluarkan peti jenazah dari mobil. Peti tersebut dilapisi plastik. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk menguburkan. Tak ada keluarga yang mendampingi jenazah.

“Ini pemakaman yang sepi,” kata Asep.

Sesaat kemudian telepon genggamnya berdering. “Wah, enggak bisa bos, udah penuh hari ini,” Asep menjawab suara di ujung telepon. “Kan lu tahu sendiri. Paling entar malam bisa.” Ada permintaan pemakaman ke TPU Tegal Alur yang terpaksa ditolak Asep.

Ada 40 penggali kubur yang dibagi dalam delapan tim di TPU Tegal Alur — yang memiliki luas sekitar 50 hektare. Mereka menggali siang-malam sejak 20 Maret, ketika korban meninggal terus bertambah. Lahan khusus coronavirus pun semakin menyempit. Di lahan yang kini dipakai, Asep memprediksi bakal habis sebelum akhir April. Pihaknya kini tengah mencari lahan lain. “Kami masih menunggu arahan dari dinas pemakaman,” kata Asep yang telah bekerja sebagai penggali kubur sejak 2010.

Saat sore menjelang, Satria datang ke TPU Tegal Alur menggunakan motor bebek, mencari kuburan ayahnya, Maruf bin Khasan. Setelah berbicara dengan Asep sebentar, Satria menuju pusara bapaknya yang belum diberi nisan. Badannya juga disemprot desinfektan. Satria sejenak mengambil gambar di ponselnya, kemudian khusyuk berdoa.

Semenjak wabah merebak, kerumunan orang sangat dibatasi, termasuk ibadah. Banyak jenazah berprotokol Covid-19 yang dikubur tanpa didampingi keluarga, sebagaimana umumnya. Itu juga berarti Satria dan keluarganya tak bisa menggelar upacara pemakaman ataupun tahlilan selama tujuh hari, seperti tradisi yang jamak di masyarakat.

“Mungkin nanti setelah pandemi selesai kami akan menggelar tahlilan di rumah,” kata Satria. “Sementara kami hanya bisa mengirim doa.”

Foto oleh Muhammad Ishommudin

Jakarta-based freelance journalist, focusing on terrorism, religious extremism, the environment, and human rights. www.adirenaldi.com

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.