Bagaimana Mengajukan Ide Liputan Sebagai Freelancer?

Penolakan ide liputan itu sudah biasa, tebalkan urat saraf dan otot leher jika ingin menjadi wartawan

Pada Desember 2019, saya kepikiran membuat sebuah lokakarya gratis buat mahasiswa yang kepenginnya diadakan pada Sabtu terakhir setiap bulan. Nama kolektifnya Jurnalisme Sabtu Sore. Lalu nama workshop-nya Klinik Jurnalisme.

Workshop itu rencananya bakal mengkover segala macam trik/tips jurnalisme, dari soal menulis panjang sampai tips bikin pitch.

Waktu dan tempat sudah ditentukan, di sebuah pusat kegiatan seni dan budaya anak muda di Jagakarsa, Jakarta Selatan dan dimulai Maret 2020. Narasumber juga sudah dipilih dan setuju untuk mengampu materi.

Apa daya COVID-19 datang. Rencana bubar total.

Ide itu datang ketika saya masih bekerja di sebuah media anak muda di Jakarta. Ketika kerap menjumpai proposal/ide liputan dikirim ke email saya. Sekira 90 persen ide yang dikirim sama sekali tak terpakai. Bukannya jelek, tapi si calon penulis tak mengelaborasikan idenya sama sekali atau mengajukan proposal liputan yang terlalu ambisius sampai-sampai muskil untuk dikerjakan.

Editor saya pun pernah mengeluh sulitnya mencari wartawan/penulis. Sekali lagi bukannya mereka tak bisa menulis, tapi lebih karena mereka tak bisa memberikan ide.

Lantaran rencana lokakarya yang tak kunjung terealisasi (di samping kesibukan sehari-sehari, saya juga sudah agak malas karena pandemi belum menunjukkan tanda selesai), saya tergerak untuk berbagi tips membuat ide liputan agar para calon wartawan/wartawan muda lebih akrab dengan membuat proposal/pitch ke media.

Hal ini juga dibuat agar semua dapat saling berbagi dan belajar. Ini didasari dari pengalaman saya selama menjadi freelancer. Kala itu saya masih kebingungan dengan cara merumuskan ide liputan yang bagus. Saya hampir patah semangat ketika penolakan datang bertubi-tubi.

Ketika memutuskan jadi freelancer di saat pandemi, saya berkutat dengan perumusan ide hampir setiap hari. Di malam hari, saya mencari ide dari media sosial atau indeks berita. Paginya saya mencoba merumuskan ide tersebut ke dalam beberapa paragraf. Setelah melakukan revisi dan sekiranya sudah mantap, saya mengirimkan proposal tersebut ke media yang sekiranya cocok dengan topik tersebut.

Dalam satu hari saya bisa mengirim tiga hingga lima pitch ke editor. Ada yang tidak membalas meski sudah di-follow up. Ada yang menolak karena topiknya tidak sesuai dengan karakter medianya. Ada juga yang menolak karena mungkin idenya terlalu lokal atau basi.

Sebenarnya tidak ada formula yang saklek dalam perumusan ide liputan. Yang jelas sangat perlu untuk meyakinkan editor bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk menulis cerita itu, dan bukan orang lain.

Setidaknya beberapa hal ini patut dicoba:

  • Perkenalkan diri. Sedikit latar belakang tentang penulis memungkinkan editor tahu pengalaman atau hal yang membuatmu tertarik. Misalnya:

Halo, saya Adi, wartawan lepas berbasis di Jakarta. Saya sudah bekerja sebagai wartawan selama 10 tahun dan tertarik dengan isu seputar blablabla. Saya hendak mengirim ide liputan untuk media X. Semoga berkenan!

  • Sertakan contoh tulisan yang pernah dibuat (bisa berupa tautan atau lampiran kumpulan tulisan). Entah itu liputan, esai, ide, atau apa pun yang sekiranya perlu untuk membuat editor tahu kualitasmu.

Kalau hal di atas sudah oke. Lalu masuk ke bagian paling penting: Ide liputan!

  • Sertakan judul tentatif atau setidaknya satu kalimat yang merangkum semua ide tulisan. Misalnya: Mengapa Jokowi Ngebet Mengeruk Nikel di Indonesia Timur?
  • Ide cerita SANGAT BERBEDA dengan topik. Ketika mengajukan sebuah ide liputan, wajib hukumnya untuk menulis secara spesifik. Menulis soal perempuan terdampak COVID-19 itu bagus, tapi cerita personal dari beberapa perempuan penyintas kekerasan domestik selama pandemi itu lebih hebat.
  • Tanyakan ke diri sendiri: “Kenapa publik harus peduli dengan cerita ini?” Pertanyaan ini kadang sulit dijawab, sebab penulis lebih sering mementingkan ego dibandingkan melayani publik.

Pernah ada usulan liputan yang masuk soal jajanan tradisional dan bagaimana jajanan itu bertahan sampai sekarang. Bukankah semua makanan adalah peninggalan tradisi yang mungkin telah ada sejak berabad-abad lalu? Gudeg dimakan sejak keraton Yogyakarta dikuasai entah Hamengkubuwono yang ke berapa. Akan lebih menarik justru menulis soal makanan yang hampir punah, dan hanya satu keluarga yang mampu membuatnya, misalnya.

  • Akses Liputan. Banyak penulis yang mengajukan ide liputan secara wow dan bombastis tapi tak punya akses ke sumber berita. Misalnya meliput sebuah ritual keagamaan di sebuah desa terpencil di Bali. Tapi bagaimana aksesnya? Apakah kamu sudah punya narasumber di sana yang siap menemani untuk waktu lama? Bagaimana agar narasumber itu mau terbuka? Hal ini penting dimasukkan ke dalam proposal. Sebab editor perlu diyakinkan bahwa ide liputan itu bisa direalisasikan dalam tenggat yang ditentukan.
  • Sebelum pengajuan ide proposal, penting untuk melakukan pra-liputan seperti riset dan mencari narasumber. Akan lebih bagus jika sudah ada data pendukung dan pra-wawancara, alias ngobrol-ngobrol ringan dengan narasumber. Ini akan meyakinkan editor bahwa kamu dapat menyelesaikan tulisan dengan baik. Editor juga akan merasa yakin jika kamu adalah orang yang tepat mengerjakan ide tersebut karena telah memiliki akses ke narasumber. Jadi sertakan data pendukung, daftar narasumber, dan tantangannya. Boleh juga disertakan pertanyaan apa yang hendak kamu jawab dalam tulisan tersebut.
  • Buat proposal sesingkat mungkin. Saya pernah mendapat tips dari seorang editor dari luar negeri: “Jika kamu tidak bisa membuatnya singkat, bagaimana kamu akan mengerjakan liputan itu?” Para editor adalah orang sibuk, maka penting untuk membuat proposal tulisan dalam beberapa paragraf saja. Singkat, padat, dan jelas.

Ini contoh proposal soal limbah medis ketika saya mendapat dana hibah liputan dari Pulitzer Center on Crisis Reporting yang diterbitkan Mongabay Indonesia dan New Naratif.

Indonesia Has a Long Medical Waste Problem, Now it Hampers Effort to Flatten the Curve

With more than 100,000 confirmed cases and more than 4,000 deaths, the pandemic is exposing how fragile Indonesia’s health care system is. Hospitals are understaffed and under-equipped. The pandemic has also exposed not so new problems: medical waste.

According to the Health Ministry report in November 2019, there are 2,852 hospitals in the country that produced 296 tons of medical waste per day. Only 96 hospitals have their own incinerators. There is no latest medical waste report as of yet. However experts predict that the medical waste produced within a day will increase five times during the pandemic.

“Even in normal times Indonesia has problems with medical waste treatment,” says secretary general of Indonesian Environmental Expert Association (IESA) Lina Tri Mugi Astuti. “We can imagine how it will get worse during the pandemic.”

Medical waste has been found in almost all landfills across the nation long before pandemic. This year, there was an increase of medical waste found in waterways and landfills in Greater Jakarta. The government admits that they couldn’t do anything to prevent this reckless waste management. They have issued regulations and guidelines, stating that medical facilities should have their own waste management system. If medical facilities could not afford it, they should contract third-party waste management companies.

However, only 14 private waste management companies across Indonesia are registered with the government. Some of the companies are also found to be breaching health protocols by dumping medical waste improperly. One hospital in East Java was also found to be selling their medical waste to a recycling company.

This report will look deep into how the problem could jeopardize the fight to flatten the curve. Who is responsible for this and how to solve the problem.

Di proposal itu ada riset kecil-kecilan dan ada pula akses ke narasumber seorang ahli lingkungan untuk memperkuat hipotesis. Setidaknya editor jadi tahu duduk perkara cerita yang hendak diajukan.

Akses ke lokasi liputan pada saat itu sudah saya dapat, dan sengaja tidak saya masukkan sebab dalam hal ini lokasi liputan bisa berubah setiap saat karena limbah medis ditemukan di hampir semua TPA di Jawa.

  • Tentukan deadline. Editor perlu tahu seberapa lama kamu dapat mengerjakan liputan tersebut. Setidaknya deadline harus masuk akal dan tergantung kesulitan liputan. Utarakan kepada editor tantangan yang akan dihadapi: apakah narasumber adalah orang yang sulit ditembus? Apakah lokasi liputan terlalu jauh? Banyaknya jumlah narasumber?
  • Kalau sudah merasa mantap dan sudah mengirim ke editor, yang harus diingat PENOLAKAN itu hal biasa. Dari lima ide liputan, paling hanya satu yang nyangkut. Ini kenyataannya. Sebab sekali lagi, tak ada formula yang sahih. Banyak faktor bermain di sini. Entah karena ada faktor kemujuran atau fakta bahwa ide liputan yang kamu ajukan tak sesuai dengan gaya penulisan atau topik di sebuah media.

Membuat proposal liputan bukan hal yang bisa dipelajari lewat buku atau perkuliahan. Tapi dia diasah lewat praktik langsung. Ada yang butuh bertahun-tahun sampai dia bisa menguasai teknik itu, ada pula yang cuma butuh beberapa hari dan langsung tembus ke media internasional. Intinya coba terus.

Saya tak tahu apakah di jurusan komunikasi/jurnalisme ada satu mata kuliah khusus untuk mengasah dan membuat proposal liputan? Jika tidak, mungkin ini saatnya mengubah kurikulum. Sebab ini juga penting, di samping teknik menulis dan analisis pemberitaan.

Jadi, masih bercita-cita menjadi jurnalis?

--

--

--

Jakarta-based freelance multimedia journalist. Award-winning and award-losing. Has written for various publications around the world. www.adirenaldi.com

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Adi Renaldi

Adi Renaldi

Jakarta-based freelance multimedia journalist. Award-winning and award-losing. Has written for various publications around the world. www.adirenaldi.com

More from Medium

How to scale a sales team and reduce sales churn (ft. Chris De Vylder, CRO @ Sentry.io)

Zomato(Product Review)

Google Drive and Google Photos — What a Mess!!!

Hybrid Event Pro Tip: Start Your Livestream Early