Pelajaran di Balik Reportase Selama Pandemi COVID-19: Bagian Pertama

Adi Renaldi
5 min readMay 15, 2020

--

Foto oleh Muhammad Ishomuddin

Pandemi COVID-19 mungkin adalah salah satu peristiwa terbesar abad ini, yang jika dilihat dari kacamata jurnalistik, menawarkan begitu banyak kisah. Riuh rendah kemarahan. Kesedihan. Optimisme. Semua berbaur menjadi apa yang dibilang banyak pihak sebagai ‘a new normal.’

A new normal atau bukan. Dalam setiap guratan sejarah yang penuh rasa sakit, manusia selalu bisa keluar sebagai pemenang. Manusia memang memiliki kemampuan adaptasi yang mengagumkan.

Rick Potts, direktur Program Asal-Usul Manusia Smithsonian Institution National Museum of Natural History mengatakan manusia punya dua aset: kemampuan berpikir secara kreatif dan imajinatif serta budaya.

“Otak kita pada dasarnya adalah otak sosial,” kata Rick dilansir Scientific American. “Kita berbagi informasi, menggali dan membagi ilmu pengetahuan. Itu adalah cara bagaimana manusia bisa beradaptasi di situasi baru, dan itu yang membedakan manusia dari leluhur primatanya.”

Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif COVID-19 pertama kali pada awal Maret, tak ada yang tahu seberapa luas imbas dari wabah tersebut. Aktivitas masyarakat masih seperti biasa. Wartawan masih menjalankan tugasnya seperti hari-hari normal. Namun ketika korban berjatuhan semakin banyak (ditambah penetapan COVID-19 sebagai pandemi oleh WHO), tak pelak beberapa sektor kegiatan terpaksa mengikuti aturan.

Tetek bengek yang dibawa saat liputan sehari-hari.

Jurnalis pun tak luput. Mau tak mau mereka juga harus beradaptasi dengan segala keterbatasan. Jika tugas jurnalis sebelumnya lebih banyak turun ke lapangan, menyaksikan peristiwa di garis depan dan mewawancarai narasumber secara tatap muka, kini sebagian besar dilakukan lewat sambungan telepon atau internet.

Saya pribadi masih gagal beradaptasi dengan ‘budaya’ baru ini. Ketika masih mampu dan memiliki kesempatan untuk ke lapangan, saya lebih memilih turun langsung alih-alih mencatat kesaksian pihak lain. Saya sadar di satu sisi, ini terlalu egois. Di sisi lain, observasi lapangan secara langsung akan memperkaya kedalaman cerita.

Saya pun sadar ini tindakan yang berbahaya jika dilakoni secara gegabah. Terlebih, putri saya yang baru berusia tiga tahun memiliki riwayat asma bronkial. Butuh kebijaksanaan ketika memutuskan untuk meliput di lapangan atau tidak. Namun ketika sudah mantap untuk turun meliput di garis depan, prosedur keamanan harus wajib dituruti.

Saya bekerja untuk VICE Indonesia. Ia adalah newsroom kecil. Penulisnya cuma bisa dihitung pakai jari satu tangan dan mengandalkan jaringan kontributor di seluruh dunia. Penulisnya tak wajib ke lapangan dan lebih memilih fokus ke konten yang tercecer di internet (unggahan media sosial yang viral, kebijakan absurd pemerintah, perilaku pejabat yang bikin geleng-geleng, peristiwa unik, etc).

Saya mendapat privilese itu (jika bisa disebut privilese). Namun entah ada satu dorongan yang memaksa saya untuk menulis secara lebih baik, yang hanya bisa didapat dengan cara observasi langsung.

Keputusan itu harus dibicarakan baik-baik dengan kantor dan keluarga. Kantor untungnya, menyediakan asuransi dan setiap reportase lapangan harus diketahui petinggi kantor. Urusan kantor beres, yang kedua adalah meyakinkan keluarga.

Butuh waktu lama membahas keputusan saya untuk liputan. Saya membicarakannya dengan pasangan. Kami melakukan assessment setiap kemungkinan terburuk dan bagaimana solusinya. Higienitas diri tentu penting. Begitu pula menjaga jarak. Esensial sekali. Namun bagaimana jika ternyata saya menjadi carrier tanpa gejala dan membawa virus itu ke rumah? Bagaimana saya tahu dan bagaimana menanggulanginya?

Kami tak tahu jawabannya. Namun kami yakin sepanjang menerapkan prosedur kebersihan secara disiplin, virus tersebut dapat ditangkal.

Pada pertengahan Maret, saya menghabiskan satu minggu mengikuti pekerja medis di RSPI Sulianti Saroso, pengemudi mobil jenazah, menemui seorang anggota keluarga yang kehilangan orang tuanya saat pandemi, dan mengobrol dengan penggali kubur di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat.

Mobilitas tinggi ditambah bepergian ke tempat-tempat yang dicap zona merah memiliki risiko yang tinggi pula. Bagaimana pencegahannya? Sebelum pergi, cek suhu badan. Minum vitamin/suplemen makanan. Saya hanya rajin mencuci tangan setiap menyentuh benda. Hand sanitizer selalu saya gantung di tas. Masker saya pakai sepanjang hari (ini masih jadi perdebatan, idealnya masker maksimal dipakai enam jam).

Begitu sampai rumah, prosedur dekontaminasi harus ditaati. Teras rumah menjadi ruang dekon. Semua barang bawaan: tas, ponsel, kamera disemprot cairan dekon atau minimal dilap dengan tisu antiseptik. Baju dilepas dan dibungkus plastik rapat. Kemudian mandi.

Beberapa minggu kemudian saya masih ke lapangan. Menemui pembuat ventilator sederhana, berkunjung ke perkebunan di tengah perkotaan, mengikuti petugas ambulans ketika bertugas, serta beberapa proyek liputan yang masih berlangsung saat ini.

Meliput petugas ambulans mungkin adalah pengalaman yang berisiko tinggi. Saya menghabiskan tiga hari. Hari pertama saya berkeliling ke kantor pusat pelayanan ambulans di Jakarta, buat mencari tahu apa keterbatasan mereka, tantangan selama pandemi, dan melihat langsung cara mereka beroperasi.

Hari kedua saya menghabiskan waktu di ruang komando Garda Bencana — petugas ambulans yang khusus menangani COVID-19 — dan mendengar berbagai cerita pengalaman mereka. Hari ketiga, saya semalaman naik mobil ambulans menjemput dan mengantar pasien terduga coronavirus.

Tentu saja awalnya para petugas terheran-heran mendengar rencana saya untuk meliput di garis depan. “Orang lain lagi menghindari COVID-19, kamu malah mendekat,” kata seorang petugas ambulans. “Kamu sudah bikin surat wasiat belum?” ledek petugas yang lain.

Namun mereka dengan hangat menyambut tim liputan kami. Mereka membagi kisah, yang saya rasa tak mungkin bisa saya dapat jika hanya melalui sambungan telepon. Saya mendapat kisah kemanusiaan yang kaya, yang membuat optimisme terhadap kemanusiaan tumbuh kembali. Masih banyak orang yang punya ketulusan untuk membantu orang lain. Dan mereka punya dedikasi itu, mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri demi orang lain.

Jika sudah begitu, risiko yang membayangi perlahan pudar digantikan dengan rasa bangga terhadap para petugas medis yang berjuang di sana. Saya pulang dengan segudang kisah yang menanti untuk dirajut.

Perencanaan liputan memang penting, supaya tak membuang waktu di luar ruangan. Jika suatu artikel bisa dikerjakan tanpa liputan langsung, tentu tak perlu memaksakan diri untuk keluar rumah. Namun jika dirasa suatu cerita perlu sebuah kedalaman; deskripsi scene dan pendalaman karakter, maka proyek liputan harus disiapkan dengan matang.

Saya perlu menentukan topik liputan terlebih dulu, supaya fokus. Apa yang bisa diambil ceritanya dari petugas ambulans? Siapa yang layak diangkat kisahnya? Bagaimana cara mengakses kisah tersebut? Semua dipersiapkan dengan detail dan satu persatu perlu dicari solusinya.

Sebelum berangkat, saya mendapat pelatihan dari Thomson Foundation untuk keamanan selama liputan COVID-19. Pelatihan tersebut secara daring dan peserta bisa mendapat sertifikat ketika menyelesaikan kursus. Saya menyiapkan APD lengkap ketika meliput cerita soal petugas ambulans.

Lalu selalu turuti perintah pekerja medis (jika yang diliput adalah petugas medis) sebab mereka tahu apa yang mereka lakukan. Selama meliput petugas ambulans, saya menjaga jarak dari pasien. Saya mengikuti cara mereka memakai dan melepas APD serta menuruti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di ambulans.

Tetap tenang selalu dan jangan gegabah.

Bersambung.

--

--

Adi Renaldi

Jakarta-based freelance multimedia journalist. Award-winning and award-losing. Has written for various publications around the world. www.adirenaldi.com