Siapa Suruh Jadi Jurnalis Lepas?

Foto udara Tempat Pemrosesan Akhir Cipeucang, Kabupaten Tangerang. Foto diambil untuk sebuah proyek liputan tentang sampah medis di masa pandemi. Ini satu proyek yang saya kerjakan sebagai wartawan lepas.

“Orang tak akan belajar sampai dia mencobanya.”

Berapa kali pun kalimat itu diucapkan, tak pernah ada makna yang salah.

Ini sudah bulan ketujuh sejak saya di-PHK. Tak ada satu hari pun tanpa hati berdebar, sebab saya tak tahu apakah upah bekerja sebagai jurnalis lepas akan masuk ke rekening tepat waktu? Di dunia ini seolah tak ada yang tepat waktu selain tenggat pembayaran tagihan.

Mungkin saya harus memutar waktu di bulan Mei, satu bulan sebelum saya di-PHK pada awal Juni.

Kala itu rasa muak dan marah bercampur jadi satu. Saya sudah tidak betah di kantor dan sempat memutuskan resign.

“Mau jadi apa?” tanya bini saya.

“Freelance mungkin. Saya pengin ngumpulin portfolio sembari mencari kerja tetap,” jawab saya. Beberapa waktu ke belakang saya memang pengin menjajal freelance. Mencari tantangan baru dan mencoba peruntungan di media regional maupun internasional.

Wajar bini saya bertanya. Kami sudah punya satu anak. Ketika pandemi orang tengah berdoa supaya tidak kehilangan pekerjaan, ini malah saya hendak melepas pekerjaan.

Sinting.

Tapi kala itu (dan mungkin sampai sekarang) saya percaya selalu ada jalan bagi orang yang mencoba.

Belum sempat saya mengirim surat resign, surat PHK itu datang ke meja saya. Beberapa kawan sekantor juga kena.

Doa saya yang menginginkan diri menjadi freelancer terjawab dengan cara lain, batin saya.

Tak sampai seminggu setelah surat PHK itu datang, saya sudah mengemasi barang dan hengkang dari kantor. Beberapa jam kemudian saya mencuit dan ‘mengiklankan diri’ di Instagram. Halo, saya sudah menjadi pengangguran, rekrut saya dong, guys!

Saya mulai mencoba mengirim ide-ide tulisan ke banyak media. Setiap hari. Secara simultan. 99 persen adalah penolakan. Tapi jika ada satu yang nyangkut, saya senang bukan kepalang.

Tapi jujur, jadi freelancer di Indonesia tak bisa dijadikan sandaran hidup. Gaji per tulisan di media luar untuk penulis macam saya yang belum kedengaran namanya paling banter $200-$500 (di kisaran IDR3-IDR7 juta).

Nah, bukannya tidak bersyukur, bagi keluarga kami gaji satu tulisan tersebut tak menutup kebutuhan. Mari kita bedah alasannya:

  1. Gaji freelancer tak menentu. Ada pasang-surut tentu saja. Bulan ini mungkin dapat tangkapan bagus, bulan depan belum tentu dapat. Jadi bagaimana satu keluarga bisa bertahan kalau begini. Butuh cara lain.
  2. Perlu menyelesaikan lebih dari satu tulisan dalam sebulan agar kebutuhan dasar bisa terpenuhi. Masalahnya, mengegolkan satu ide tulisan saja sudah setengah mati. Respon editor kadang lama. Bisa satu minggu atau lebih. Waktu yang dipakai untuk menunggu respon tersebut adalah waktu produktif yang terbuang tentu saja. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk liputan di lapangan dan waktu untuk pengerjaan tulisan, editing, dsb. Bisa jadi saya baru dibayar di bulan berikutnya.

Jadi apa yang saya lakukan selama tujuh bulan belakangan?

Untungnya saya masih mendapat uang PHK yang cukup untuk bertahan selama beberapa bulan. Tapi saya tak mau sepenuhnya memakai uang tersebut untuk bertahan hidup sambil ongkang-ongkang kaki. Tentu saya tetap harus bekerja.

Saya sadar sepenuhnya di Indonesia orang seperti saya tak bisa sepenuhnya menyandarkan diri pada pekerjaan lepas. Risikonya terlalu tinggi bos.

Maka saya memutuskan mendiversifikasi pekerjaan. Alias kerja serabutan. Saya mencoba mengerjakan dua-tiga proyek sekaligus selain menjadi wartawan lepas. Menjadi penulis skrip, menjadi penulis konten, menjadi koordinator liputan lepas, menjadi host video dokumenter. Intinya apapun Anda mau, Insya Allah saya bisa kerjakan.

Jadi di sela-sela proyek liputan, saya masih bisa mengerjakan apapun proyek yang ada di hadapan saya.

Lalu saya mengajukan proposal untuk dana hibah untuk membiayai liputan. Tahun ini saya dua kali mendapat dana hibah liputan dari Earth Journalism Network dan Pulitzer Center on Crisis Reporting. Dana hibah tersebut lumayan. Sekira $2,000. Itu cukup buat mendanai proyek liputan yang butuh dana untuk transportasi ke luar kota, makan, penginapan, dsb. Kalau ada sisa, bisa disimpan buat beli kebutuhan rumah.

Kan tidak mungkin liputan ke luar kota tapi dana dari uang tabungan sendiri. Tekor bos…

Hal tersebut juga menjadi tantangan bagi freelancer. Misalnya ketika saya punya ide liputan di Poso, Sulawesi Tengah dan kemudian saya ajukan ke satu media internasional dan diterima. Apakah dana liputan tersebut dikover oleh sang media? Belum tentu. Kalau sudah begitu, ya sudah, amsyong.

Maka untuk mendanai proyek liputan ambisius, saya biasanya mengajukan proposal dana hibah. Untuk liputan dalam kota dan liputan berbasis riset online sambil telepon sana-sini mungkin lebih gampang.

Begitulah, tak terasa sudah tujuh bulan saya bekerja tanpa kantor dan atasan. Tahun ini benar-benar penuh pengalaman tak terduga. Semuanya adalah ketidakpastian. Kaos dalam sebuah keteraturan. Penuh rasa deg-degan. Penuh rasa getir ketika tak bisa tidur sebab takut besok tidak bisa makan. Penuh dengan semangat membara ketika melihat wajah anak dan tekad untuk membahagiakan dia. Semua menjadi bahan bakar yang membuat saya bergerak untuk bekerja lebih keras.

Tahun depan anak saya sudah masuk sekolah. Saya berencana mencari pekerjaan tetap. Saya tidak kapok. Hanya ingin sesuatu yang lebih pasti demi masa depan.

Tapi saya tak tahu.

Apakah ada suatu kepastian di luar sana?

Apa kita sia-sia mencari sesuatu?

Jakarta-based freelance journalist, focusing on terrorism, religious extremism, the environment, and human rights. www.adirenaldi.com